Why Listening Should Be My 2018 Resolution




Masih ada nggak sih orang yang suka julid terus ngata-ngatain, “ ngapain sih bikin resolusi, paling juga nggak bakal tercapai.” Abis itu ngomen lagi bahwa paling juga resolusi tahun depannya sama lagi.


Saya bercermin dari resolusi-resolusi yang saya bangun semasa kuliah. Resolusi yang saya ‘buat nyata’ dengan menempelnya di dinding kamar, di lemari, di toilet dan di wallpaper laptop juga ponsel. It really works for me dan saya ingin mengulanginya lagi untuk tahun 2018 ini meski kata beberapa psikolog, saya seharusnya membuat resolusi 2018 pada tahun 2016, bukan sekarang.

“If we really want to achieve things in our lives, we need to plan further ahead and think more long-term,” Benjamin P. Hardly.

Dulu, JK Rowling aja udah merencanakan terbitnya ketujuh buku Harry Potter sebelum menulis satu bab pun. Sementara George Lucas sudah merencanakan enam film Star Wars sebelum memulai film yang pertama.

Dan mungkin mereka melakukan positioning segala macam impian mereka. Misalnya, berpikir untuk bagaimana lima tahun lagi sesuatu akan terjadi, lalu berjalan mundur untuk membuat prioritas apa-apa yang harus dicapai. Jadi semacam membuat visi dan mem-breakdown-nya menjadi misi-misi dengan urutan prioritas yang terukur.

But, lets start with my short term resolution for 2018. Saya juga membuat long-term resolution secara terpisah supaya lebih mudah dalam membuat strategi dan mengukurnya. Well, sebanyak apapun mimpi, semuanya harus memenuhi kriteria SMART seperti yang pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu di blog ini dan juga di blognya Primadita.

Pertama specific, bahwa target dan mimpi harus spesifik. Nggak boleh terlalu lebar dan meluas. Measurable, tentunya harus terukur, jelas indikator keberhasilannya. Achievable, ya ngapain nulis target muluk-muluk untuk jangka pendek? Buang-buang energi. Realistic, jadi ya udah deh yang pasti-pasti aja target dan usaha untuk meraihnya. Dan yang terakhir adalah time bond, kalau nggak berbatas waktu itu mah cintanya aku ke kamu. Kalau yang namanya target harus jelas deadlinenya kapan. Syukur-syukur ada timelinenya perminggu atau perbulan.

Saya pengin mengawali tahun 2018 ini dengan sebentuk refleksi. Bahwa dalam keseharian kita terkadang berpikir bahwa kita harus lebih membuat hidup menjadi ringan. Kita kerja dan kerja setiap hari buat apa? Buat belanja-belanja. Buat liburan ke LN. Lalu apakah segala bentuk kesejahteraan yang kita kejar benar-benar berkontribusi bagi kebahagiaan hidup kita. Hingga pada akhirnya kita stuck pada suatu kondisi dimana kita bahkan nggak punya waktu untuk menikmati apa yang telah kita dapat karena kita berpikir untuk terus fokus bekerja demi mendapatkan sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Bahkan terkadang saya merasa hidup orang-orang seperti lebih penting untuk stalking akun ocip di instagram, ngepoin seleb bahkan seseorang yang dianggap musuh, makan-makan enak dan belanja demi feed dan follower, lalu kapan kehidupan untuk sahabat, keluarga, dan sesuatu yang benar-benar membahagiakan?

Saya seperti ditampar-tampar ketika saya tanpa sengaja membaca sebuah ramalan zodiak alias bintang di suatu website kenamaan world wide. Well, sebenarnya saya udah nggak baca ramalan bintang lagi sejak SMP. Setidaknya sejak saya beranjak paham bahwa hidup kita di-drive oleh Tuhan, bukan ramalan. Dan meski pun di majalah teenager yang masih saya baca waktu itu masih ada ramalannya, tapi saya tetap nggak baca. #dijelasin

Ada yang bintangnya Leo juga?

Kembali lagi ke ramalan bintang saya, mereka bilang “2018 should be the year of listening more than speaking, Leo!”

Katanya, seseorang berbintang Leo itu emang udah pasti jadi center of attention. Leo kan udah terkenal passionate dan pasti bisa untuk confidence, acts like a magnet dan meraih perhatian. Tsaahh. Tapi di 2018 ini saya memang mencoba untuk lebih bisa mendengarkan, bukan sekedar berbicara dan ingin didengar.



Sewaktu mengikuti tes know your color dari web bloggerperempuan.co.id teridentifikasi bahwa warna saya adalah merah. Dan mostly dari apa yang dibilang di sana benar. Apalagi dibagian terakhir saya katanya bukan tipe pendengar yang baik dan kadang terlihat sangat dominan. Kalau dihubungkan lagi dengan tes sebelumnya sewaktu capacity building dosen, diketahui bahwa saya sangat dominan dengan poin 24 dimana kalau angkanya mencapai 25 maka akan sulit diubah karena sudah menjadi sifat.
 

Mendengar bukan sekedar membiarkan orang lain untuk berbicara dan saya fokus memberikan mata, telinga, juga hati untuk merasa. Mendengar di sini lebih kepada menyatu dengan kehidupan di sekitar saya dan tidak lagi menjadi egois.

Saya membayangkan dampak ujungnya sih bakal selfish karena balik lagi ke diri sendiri juga. Tapi dalam prosesnya, akan banyak sekali makna yang timbul dengan mendengarkan. Pernah dengar enggak ungkapan bahwa for everything that you rid of, you will gain something much more. Ini tentang bagaimana menemukan our own sense terhadap diri sendiri dan fokus kepada hal-hal yang benar-benar saya butuhkan tapi dengan cara yang berbeda, dari perspektif yang berbeda.

Hidup saya bukan lagi tentang gimana caranya supaya orang-orang mau mendengarkan saya, menuruti semua mau saya, dan mengamini seluruh pernyataan saya. Masa-masa itu sudah lewat. Saya nggak ingin berpikir bahwa tujuan hidup saya adalah beli barang-barang high-end yang saya mau, gaji saya naik, beli rumah yang besar dengan halaman dan kebun yang luas, beli mobil yang belum dipunyai sama kawan-kawan terdekat. Ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Yang kita inginkan sebenarnya adalah final goal untuk menjadi anti-mainstream dan menjadi pusat perhatian, yakan?

Simply said, terkadang kita lupa buat apa pergi kondangan karena yang kita pikirkan adalah outfit supaya bisa foto OOTD dan menghiasi feed instagram atau instastory. Kita terkadang lupa bahwa esensinya adalah menghadiri undangan guna menggugurkan kewajiban atas undangan kawan. Untuk memberikan doa restu. Bukan untuk tampil bermewah-mewah meski harus beli baju baru setiap minggu demi Wedding Party OOTD yang berbeda di setiap kesempatan. Alih-alih dapat pahala malah jadi dosa karena niatnya udah beda.

And here is my list to do to be listener in 2018

1.       Membeli sesuai kebutuhan. Ini lebih ke bertanya kepada diri sendiri deh. Apa iya saya butuh sepatu booth, flat, heels, sneakers dalam dan setiap ganti warna baju harus juga ganti warna sepatunya? Sepertinya saya cuma butuh satu sepatu olahraga, satu slip on warna hitam, satu flat shoes warna cream dan satu booth warna cokelat. Begitu juga dengan baju, saya hanya perlu menggilir baju-baju yang saya pakai untuk ke kampus dan event, hangout, tidur, dan dua baju untuk pesta.

2.      Lebih peduli kualitas, bukan sekedar kuantitas. Ini juga tentang waktu untuk istirahat, bicara, dan juga belanja tentunya. Sekarang ini sepertinya saya terlalu banyak tidur jadi kurang produktif. Sementara profesor-profesor yang saya kenal menghabiskan waktu mereka untuk belajar, menulis, meneliti dan mengabdi. Bukan untuk tidur sepanjang hari sehingga abai dengan tugas yang belum sampai ke due date.

3.      Mengonsumsi hal-hal berbau lokal. Eat locally, think globally adalah moto saya beberapa tahun lalu ketika saya pertama kali berkenalan dengan pasar dan petani di Jogja. Simple living. Rumpun tomat di belakang rumah saya di bawah jemuran sudah mulai berbuah. Mungkin beberapa batang cabe bakal menyusul. Selanjutnya akan ada kangkung, seledri sampai daun mint. Bahan-bahan lainnya saya dapatkan dengan meluangkan waktu untuk pergi ke pasar tradisional dan mengisi kulkas dengan produk-produk petani lokal untuk hidup at least seminggu ke depan sepertinya oke juga. Bonusnya, bercengkrama dengan tukang parkir, pedagang, sampai sesama pembeli demi menjadi pendengar yang baik.

4.      Hidup dengan fokus pada tujuan. Seringkali kita manusia terlalu tamak demi mencapai semua hal yang sebenarnya bukan tujuan dari hidup kita. Bisa berfoto mesra di sosmed bukanlah relationship goals yang baik ketika tujuannya adalah untuk ‘memotivasi’ para jomblo supaya bersegera menikah. Yakin tujuannya memotivasi?

Fokus pada tujuan dan mimpi prioritas. Sebagai contoh, saya menargetkan untuk mendapatkan LoA dan beasiswa S3 pada 2018, maka saya harus harus menyisihkan setidaknya satu jam setiap harinya untuk mencapai itu. Mulai dari browsing, menyusun CV, esai, belajar IELTS, mengirim aplikasi dan lain sebagainya. Dengan begitu setidaknya saya punya 365 jam untuk mimpi saya itu. Amazing, ya!

5.      Beri batasan kepada diri sendiri. Berapa kali saya bisa pergi belanja dan mengambil barang sesuai dengan shoping list dan nggak beranak pinak? Ini semua demi mengatur pengeluaran, demi masa depan yakan? Pemicunya dapat dilakukan dengan memangkas aktivitas yang nggak perlu, misalnya scrolling newsfeed kecuali untuk melakukan pekerjaan. Hal ini demi memberikan waktu untuk mendengarkan orang-orang di sekitar saya.

6.      Meditasi

Meditasi yang saya maksud bukan sekedar yoga, tapi lebih kepada mendengarkan alam semesta. Menyatu dengan alam dan membiarkan tubuh saya rileks. Ini harus dilakukan setiap hari. Ketika bangun dari tidur dan membuat konspirasi semesta juga sebelum tidur demi mengucap rasa syukur atas pelajaran hidup sepanjang hari. Meditasi membuat saya berhenti berpikir bahwa saya nggak punya banyak waktu dan kesempatan untuk berusaha menggapai mimpi-mimpi saya.

Hari-hari yang dilalui dengan bentuk-bentuk syukur pasti bakal terasa lebih menyenangkan. Kita juga jadi lebih ikhlas untuk menjalani hidup tanpa berkeluh kesah.


Klasik banget ya isi di list saya. Beberapa orang mungkin bakal berpikir bahwa, ya hal-hal kayak gitu mah nggak usah dijadiin resolusi karena emang harus kita lakuin. Tapi bagi saya ini harus banget ditekankan, harus banget diingat dalam setiap waktu karena list inilah yang akan membantu saya untuk mencapai apa-apa yang saya harapkan terjadi di 2018 dan tahun-tahun berikutnya. Untuk mencapai visi 2018, list inilah simple stepnya. Simple? Really? LOL.

Mungkin ada yang pernah baca buku The 8th Habit From Effectiveness to Greatness-nya Stephen R. Covey? Yang pengin saya garis bawahi adalah bagian kedelapan, find your choice and inspire others to find their voice. Ini susah banget, tapi setidaknya ada 4 hal yang bisa membimbing kira untuk menemukan inner voice kita : vision, discipline, passion, conscience. Di poin ini kita harus fokus sekalipun orang bilang apapun karena ini adalah passion kita dan keluar dari dalam hati. Kalau udah punya visi, discipline your body to make it happen. Stop making excuses karena terkadang kita ini terlalu banyak ngeles.  Intinya buku ini mengajarkan bahwa to be great, seseorang harus belajar bagaimana menemukan inner voice dan menginspirasi orang lain untuk menemukan inner voice mereka. Ini yang akan saya lakukan, setidaknya kepada keluarga dan para mahasiswa saya.

Dikatakan Covey bahwa, "Kamu harus punya misi dan komitmen untuk membuatnya jadi nyata." 

Sebenarnya teori di buku itu practical banget, tapi ada juga poin tentang business management. Tentang gimana caranya supaya team kita mampu punya inisiatif tanpa harus terus disupervisi secara berlebihan. Ini bukan cuma berlaku untuk bisnis literally. Ini juga bisa saya terapkan dalam dunia kampus, organisasi, komunitas, sekaligus bisa bantuin bisnisnya HB.

Bisa ditebak kan bahwa aktivitas saya di 2018 bakalan padat banget? Sebagai anak, perempuan, istri (dan mana tau bakal jadi Ibu juga sesuai resolusinya HB), dosen, aktivis, shortly... hamba Tuhan pasti saya bakal kejar setoran. Tapi saya nggak khawatir karena dengan  pola hidup sesuai list di atas yang seimbang saya bisa mencapai visi saya di 2018.


Apalagi saya biasa mengonsumsi Theragran M yang merupakan suplemen vitamin dan mineral yang lengkap yang juga mengandung magnesium dan zinc. Saya pernah baca bahwa kalau asupan nutrisi kita nggak mencukupi terhadap kebutuhan magnesium dan zinc maka, kita akan mudah terinfeksi oleh virus, bakteri ataupun jamur. Naudzubillahnya, ya kalau sakit jangan lama-lama dan saya juga mengonsumsi vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit. Theragran M disini berfungsi untuk memulihkan dan menjaga sistem daya tahan tubuh dari serangan virus, bakteri ataupun jamur. Apabila daya tahan tubuh baik maka infeksi pun akan mereda bahkan minggat sama sekali. Jadi, mengejar mimpi boleh tapi mendengarkan tubuh itu harus.

Membuka telinga dan mencari tau hal-hal di sekitar kita adalah sebentuk syukur atas anugerah Tuhan. Saya belajar untuk lebih banyak bertanya daripada menjawab dan menjelaskan. Mengajak bicara orang-orang termasuk orang asing yang belum dikenal dan mempelajari perbedaan antara kehidupan saya dan mereka dan kenapa harus berbeda. Finallu, saya bisa menarik pelajaran dari tiap-tiap kejadian.

Oh, I think it will be damn good stories the next time I holding all the eyes of a room! Welcome, 2018!



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

56 comments

  1. Wuih keren resolusinya, semoga semua resolusinya tercapai yaa,penting sih membuat perencanaan agar tahun depan lebih tertata ya

    ReplyDelete
  2. semoga resolusinya terwujud mbak...aku pun dulu pas remaja, kalau beli majalah pasti yang pertama kali dilihat adalah ramalan bintangnya wkwkwkwk... sekarang udah enggak sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, hahahaha tos! Di jaman ituuuu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  3. Saya orang yang ga percaya lho menempel kertas berisi resolusi tahun depan di dinding akan memudahkan untuk mencapai sesuatu

    Tapi justru ga dituliskan malah zonk

    Jadi pingin niru nih resolusinya juga ada mantap

    ReplyDelete
  4. yang paling susah adalah memberi batasan pada diri sendiri dalam berbagai hal terutama dalam hal gibah, hahahha. susah cewek cewek mah. bibirnya turah jadi gatel kalo gak gibah. berharap semoga tahun depan makin kurang deh gibahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli, batasan dalam hal mager aja susqh bener

      Delete
  5. Waah resolusinya keren. Aku mulai dari tahun 2016 cuma punya resolusi dan prinsip satu heheh. Emangsih kayak gak jelas gitu tapi so far so goodlah. Tapi emang bener ya kayaknya tahnun 2018 tuh tahun yang akan sibuk. Semangat terus kak dan jangan lupa multivitaminnya :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jadi berpegang sama satu hal itu aja ya? Apaan, bisikin dong? Konsisten?

      Delete
  6. Sekian banyak yang aku perhatikan justru pemilihan kata di tulisan ini, perihal diksinya yang bercampur antara bahasa Indonesia dan inggris.

    Di satu sisi ini menunjukkan kefasihan si penulis dalam berbahasa secara bilingual, namun di satu sisi penggunaan bahasa yg campur ini sedikit mengganggu penerimaan dan pemahaman pembaca akan maksud yang ingin disampaikan..
    ^^

    ReplyDelete
  7. Resolusi keren nih mbak, semoga tercapai ya, aamiin. Ini sudah ke sekian lihat teman punya resolusi, jadi makin semangat buat resolusi diri sendiri.

    BTW aku kok jadi pengen ke Netherlands jadinya hahahaa

    ReplyDelete
  8. Penting banget bikin resolusi. Supaya bisa lebih fokus dan hidup punya target. Jangankan hidup, ya. Belanja ke emol aja kudu bikin list supaya fokus ga belanja belanji yang lain. Gitu aja kadang masiiiih aja kegoda. Contohnya resolusi Rinda yang nomor 1 itu, asli, bikin aku ketampar bangeeet... Kayaknya itu musti jadi resolusiku juga, deh. Membeli sesuai kebutuhan. Catet. Selalunya kalo belanja gitu udah dibikin list apa aja yang mau dibeli. Tapiii, begitu tiba di emol, ya Allah ini mata kayaknya perlu dipakein kacamata kuda, heuheu... Susah banget buat nahan untuk nggak beli ini itu. Sampe rumah kaget liat barang di luar list yang jumlahnya kadang lebih banyak dari yang di list. Kok beli ini, kok beli itu? Hikss...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku belanja sama pacar lumayan ngaruh, mbak. "Nong, fokus!" atau "Emng ada rencana beli itu?"

      Delete
  9. Wih keren banget resolusinya. Tapi meditasi kayaknya yang repot buat aku. Sukses terus ya rinda sayang buatmu

    ReplyDelete
  10. Sebenarnya resolusi setiap orang hampir sama. Yang membedakan, ada yang menuliskannya, hanya ada yang sebatas di pikiran saja dan ada juga yang merincinya hingga detil.

    Contohnya yang ditulis Mbak Rinda, sampai dperinci setiap jamnya perhari. Ini salah satu hal yang bisa mewujudkan impian. Karena dengan dituliskan, kita bisa selalu mengingatnya dan jadi lebih jelas terperinci apa yang harus kita lakukan.

    ReplyDelete
  11. Mantep resolusinya
    Barang lokalan aku yes banget biar kita makin cinta Indonesia

    Meditasi, aku udah lama banget gak bner2 meditasi. Paling pas solat dan itu gak terlalu lama

    Smoga resolusinya tercapai ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, iya kadang sholat aja masih inget yg lain. Astaghfirullah

      Delete
  12. 2017 sudah akan berakhir, dan aku belum menyiapkan apapun untuk resolusi. It's make me lazy, is writing my goals in the next 2018. Tapi saya percaya bahwa impian yang saya tanam dalam alam bawah sadar (cieileeh) membuat saya selalu tau target yg harus saya capai tanpa harus ditulis atau ditempel. Meskipun saya tau hal itu akan sangat membantu.
    But well, setelah membaca artikel di atas saya merasa harus membuat resolusi di tahun 2018.
    Kak Vita, kereen bangat resolusinya. Haha...
    Semoga tercapai ya kak.

    ReplyDelete
  13. Aku suka point 3. Hal-hal berbau lokal.sounds good dab bikin aku juga jadi mikir, sepertinya ide itu keren juga untuk ke terapkan. Sukses resolusinya ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini dampaknya bakal luas banget sebenarnya. Aamiin

      Delete
  14. Menarik sekali resolusinya, Mbak. Lebih banyak mendengar, bersikap lebih arif, fokus pada tujuan...
    Semoga tercapai ya resolusinya. Welcome 2018 and keep spirit! :)

    ReplyDelete
  15. Seperti biasa...resolusi terus aku yah..hi2..belum ada pencapaian yg berarti..semoga tahun depan memiliki kehidupan..yg lebih baik..

    ReplyDelete
  16. "Kamu harus punya misi dan komitmen untuk membuatnya jadi nyata."
    ---> suka banget sama quote Covey ini.

    Mendengar itu memang susah ya, karena kebutuhan manusia biasanya didengar. Tapi bagaimanapun jg manusia berproses jd lbh baik dan baik lg tiap tahun. Intinya semoga kita semua makin bertambah usia makin jadi pribadi yg baik, enggak egois dll.

    TFS semoag resolusinya tercapai aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakalo nggak gitu bakal jadi mimpi aja terus yakan? Aamiin

      Delete
  17. "Kamu harus punya misi dan komitmen untuk membuatnya jadi nyata."
    ---> suka banget sama quote Covey ini.

    Mendengar itu memang susah ya, karena kebutuhan manusia biasanya didengar. Tapi bagaimanapun jg manusia berproses jd lbh baik dan baik lg tiap tahun. Intinya semoga kita semua makin bertambah usia makin jadi pribadi yg baik, enggak egois dll.

    TFS semoag resolusinya tercapai aamiin

    ReplyDelete
  18. Karena impian akan sekedar jadi impian, resolusi akan sekedar jadi resolusi tanpa penjelasan "Mau ngapaiannya?" perlu komitmen untuk menjadinya nyata. Pada akhirnya kembali ke menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

    ReplyDelete
  19. Resolusi 2018 ini cukup bagus mba. Resolusi ini juga bisa dijadikan acuan untjk meraih mimpi ya mba. Semangat mengejar resolusj tersebut dan jgn lupa menjaga kesehatan tubuh dgn theragram

    ReplyDelete
  20. semoga resolusinya bisa tercapai mba, keren banget bisa sampe kepikiran kesana.. kalo aku justru sebaliknya lebih sering jadi pendengar nih, sampe orang banyak yg betah curhat sama aku hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu, aku parah banget yaaaa kerjaannya cuma ngomong. Aamiin

      Delete
  21. Mengenai listening atau speaking kayanya lebih he habitual and contextual ya. Ada kalanya orang yang super chatty di beberapa moment bisa lebih jadi pendengar yang baik. Semoga semua resolusinya bisa dicapai ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, iya teh, mendengar yg kumaksud lebih dari sekedar pakai telinga sih

      Delete
  22. Resolusi memang harus dituliskan supaya kita selalu diingatkan bahwa ada sesuatu yg blm tercapai😊 kalau hanya disimpan di hati saja bisa2 lupa hihihi....

    ReplyDelete
  23. Setuju mbak. Emang kudu dicatat. Terlepas keliatan kuno ato whatsoeveryg pntg apa yg kita cita-citakan bisa diwujudkan 😊

    ReplyDelete
  24. Setuju bu,sebenernya sih harus dicatat, tpi kadang remaja yang seumuran dengan saya masih kemakan gengsi hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah makanlah tu gengsi. Padahal ngapain gengsi? Malah keren lagi

      Delete
  25. Plan Do Check Action.... Memang seharusnya ada Plan termasuk menentukan KPI dalam hidup.:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes! PDCA untuk mencapai continuous improvement. Jadi kayak materi kuliah ya πŸ˜‚

      Delete
  26. Sukses untuk semua resolusi dan mekanisme pelaksanaannya. Saya pun selalu punya resolusi, meski tidak gamblang saya utarakan. cukup saya sendiri yang tahu. biasanya saya tulis di kertas dan saya tempel depan lemari pakaian biar terlihat tiap hari dan jadi penyemangat. Sukses Rinda!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabb, sukses juga bang semua rencanany. Aku pun ya sekelumit orang di rumah paling yang tau. Atau kalau ada yg rada mustahil kusimpan lima senti aja di depan muka. Hihi

      Delete
  27. sangat menginspirasi saya bu πŸ˜ƒ yuk mari sama-sama kita membuat resolusi untuk tahun 2018, semoga resolusi kita tercapai.

    ReplyDelete
  28. I love listening anywhere, everywhere. And love speaking in my comfortable zone hehe

    ReplyDelete
  29. Yep yep nda, semoga dilancarkan untk dpt mencapai resolusinya yaaaak... Jd terinspirasi mau bikin juga ah,
    Btw, tu deskripsi profil perlu diedit kayaknya, tepatnya dikata "lajang"
    Hahaha
    Semangaaat ndaaaaa

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<