Friday...I'm lovin' it

Lantaran mendapatkan serangan sakit perut sejak pagi tadi, saya baru bisa “keluar kandang” ba’da ashar. Tentu saja dosen saya yang harusnya saya temui untuk menyerahkan tugas “pendalaman” pasca ujian komprehensif sudah tidak ada dikampus. Rapat yang agendanya dimulai sejak pukul 13.00 WIB juga sudah usai ketika saya nyaris tiba di TKP (Yah, nggak kebagaian petis...hihi). So, saya menjemput teman agar dapat menemani saya berkunjung kerumah dosen saya. Alhamdulillah...saya berhasil mengusik ketenangannya di dormitori yang kerap disebut “Baitul Jannah” itu.

Hari ini boleh dikatakan hari yang sangat tidak produktif. Terkadang memang keterbatasan fisik menjadi penghalang untuk dapat benar – benar “total”. Tanpa bermaksud menyalahkan sakit yang saya derita (cieee...bahasanyaaa, lebai jiddan, euy), saya mendapatkan begitu banyak pelajaran hari ini (sore hari lebih tepatnya). “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa MUSIBAH, ia BERSABAR, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan HAL TERBAIK bagi dirinya.” (HR. Muslim)Subhanallah...nikmat yang mana lagi yang akan aku dustakan???

Pelajaran pertama disore ini adalah bahwa Kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu nampaknya memang belum mendarah daging bagi para penuntut ilmu itu sendiri. Hal ini sebenarnya telah lama saya rasakan demi memikirkan dunia pendidikan yang kian aus tergerus metropolisnya hidup dan hedonisme. Namun saya sendiri sempat merasa putus asa, adakah hidup kita dinegara yang berpedoman pada pancasila yang begitu luhur maknanya ini akan benar – benar hidup. Manusia yang memanusiakan sesamanya. Menyayangi makhluk lainnya. Hidup berdampingan dengan damai...de el el... Hal senada dapat saya tangkap dari diskusi panjang antara saya, teman saya, dan dosen saya sore tadi. Bahwa para (katakanlah) pencari ilmu bahkan seringkali belum meluruskan niatnya dalam mencari ilmu. Terbukti dari seringnya menggampangkan proses belajar mengajar, kurangnya profesionalisme yang harusnya diterapkan secara tegas dalam sistem, proses pencapaian penilaian hasil belajar, dan sebagainya. Seiring perkembangan zaman yang menuntut manusia agar semakin maju dengan berbagai fasilitas yang mempermudah pekerjaan kita harusnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bukan hanya dalam bidang akademis saja, melainkan unggul dalam hal attitude dan tindak tanduk manusia itu sendiri. Fakta dilapangan masih sering kita temui kasus – kasus “pelecehan” terhadap nilai – nilai moral yang pada akhirnya merusak harga diri bangsa. Dan sore ini saya mendapatkan “penguatan” bahwa masih ada orang disekitar saya yang sangat peduli dan merasa prihatin dengan kemunduran akhlak akibat kemajuan zaman ini.

Thankyou so much, madam. Anda membuat saya yakin bahwa masih banyak orang baik dan bisa diharapkan didunia ini. Anda makin membangkitkan passion saya yang memang sedang menggebu. Saya akan terus menjadi pembelajar, tiada pernah lelah belajar dan berusaha agar selalu lebih baik. May you always under His loving care, madam. God bless you.

Teringat kejadian ditempat saya mencuci foto,

“Kuliah dimana,dek?”

“Unila,mbak,” jawabku malu – malu.

“Waaahhh...pinter,dong, bisa masuk Unila...,”

Deg!!! Sering saya menerima ucapan seperti ini. Bahkan temman – teman saya juga demikian mungkin. Namun yang menyakitkan bagi saya adalah betapa tidak bersyukurnya saya yang selalu merasa ketiban sial, dan masih saja tidak ikhlas menerima nasib dan keputusan panitia SPMB. Saya masih saya merutuki kebodohan diri yang tidak bisa kuliah dikampus impian. Mengejar titel di jurusan yang saya idam – idamkan. Menimba ilmu bersama orang – orang dengan semangat berapi – api. Namun saya telah melupakan bahwa untuk dapat kuliah disini saya sudah “mengalahkan” berapa orang? Berapa orang yang begitu inginkuliah disini namun nasib berkata lain? Berapa orang yang rela merantau jauh – jauh untuk belajar disini? Astaghfirullah...

Perjalanan saya lanjutkan ke *F* karena perut saya dan teman saya sudah mulai menggelar konser musik jazz (let’s swing it, pals!!!). Sembari menikmati santap malam kami, saya terus berpikir dan mencoba mengingat – ingat, betapa beruntungnya saya. Meski saya bukan hidup diantara keluarga yang kaya raya dan bergelimang harta, tapi orangtua saya selalu dapat memenuhi kabutuhan anak – anaknya. Terutama dalam hal pendidikan. Mereka juga cukup diplomatis dalam menghadapi kemauan kami (anak – anaknya) yang selalu membombardir, menghantui mereka dengan bayangan masa depan kami dan berapa biaya yang harus selalu ada dihadapan kami setiap kami membutuhkannya. Betapa sulitnya mereka mencari nafkah, hanya untuk kami, ya...hanya untuk kami. Untukku, yang merupakan putri sulung yang selalu di elu – elukan. Sementara ada temanku yang hidup serba berkecukupan, namun untuk membeli peralatan penunjang pendidikan pun sulit. Ironi. Betapa mereka tidak pernah merasakan dapat bernapas dengan tenang, bersantai dan menikmati hasil jerih payah mereka. Mereka tidak pernah mengeluh. Tiada pernah putus doa dan harapan yang mereka tanamkan kepada anak – anak mereka. Bahkan hingga kini hidup merekapun masih bellum berada dalam kesenangan. Tapi mereka tersenyum senang dan bangga demi melihat anak – anak mereka rajin pergi menuntut ilmu, selalu memperjuangkan idealisme, berkemauan belajar ini-itu tanpa lelah, bermimpi begitu tinggi, dan mendapatkan prestasi yang baik disekolah. Subhanallah... I just wanna pray for my parents cause no matter how much of an idiot I am no matter how bad I mess up, they still manage to deal with me. Thank you God for giving me such great parents. I hope they are blessed always.

Dari K**, kami berpisah. Saya menumpang angkot ke arah Tanjung Karang dan teman saya ke arah Raja Basa. Saya langsung pulang ke Ratulangi untuk mengambil modul les dan kemudian menumpang angkot ratulangi. Sudah dapat saya pastikan bahwa saya akan terlambat sampai disana.

Didalam angkot saya disapa oleh seorang nenek yang berusia sekitar 70-an tahun.

‘Kok pulangnya malem,nak? Abis maen ya?!” Begh...saya seolah mendapatkan tamparan keras diwajah saya. Plak...Plak...(kanan-kiri,bo’!!!). Halah...

‘Enggak, nek. Saya baru mau berangkat les ini,” mencoba bersabar dengan tersenyum dan berbicara baik – baik dengan si nenek.

Rupanya nenek ini orang yang sangat penasaran dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Susunya pasti mahal!!! Atau multivitaminnya??? *korban iklan* Nenek ini ternyata begitu baik hati dan suka menasehati. Terimakasih, nenek...nice to meet you (jadi teringat mbah putri pasti lagi nonton sinetron Antara Cinta dan Dusta...hihi, luv u, granny). Si nenek ini berjualan telur asin, beliau biasa menjajakan dagangannya di sekitar pasar. Terkadang dalam satu hari, si nenek bisa menjual 10 – 15 butir telur asin. Beliau tidak membuatnya sendiri, tapi beliau juga membeli dari produsen seharga Rp. 2000 dan dijualnya kembali Rp. 2500-Rp. 3000. Keriput diwajahnya jelas sekali tampak sebagai akibat kerasnya hidup yang ia jalani. Salut saya dengan semangat nenek itu, masak gue yang masih muda dan perkasa gini kalah semangatnya!!!

Thank’s Lord...For giving me mother and father...my granny, and family. Enlighten me so that I may realize the depth of their love and the greatness of the sacrifices that they have done for me. Look upon them with mercy and love. And reward them for their untiring generosity. Love and care for me. Please grant them health of body. Peace of soul, happiness of family, and your bountiful grace. Protect them from all the dangers and temptations. And keep them always in your peace and love. Amiinn ya Rabb...

Eh, ternyata si abang kondektur juga baik hati, lho. Meskipun si nenek turun dan hanya membayar Rp. 1000 (Tarif sebenarnya jauh-dekat Rp. 2000) dengan rute yang harus memutar untuk mengantarkannya, abang tersebut tidak marah atau menggerutu, atau sekedar manyun, dia malah berterimakasih kepada si nenek. Wahhhh...ada juga nih ketemu kondektur dan sopir yang baik hati. Jarang – jarang soalnya.

“Kemana yaaa...anak nenek itu. Masa dibiarin malem – malem sendirian. Kerja jauh – jauh, kagak dijemput, jalan aja udah sempoyongan...,” si abang kondektur menggerutu.

Gara- gara kebaikan kondektur dan sopirnya kepada setiap penumpang (termasuk mengantar penumpang dengan rute berputar – putar ratulangi dalem-gedong air karyawan-prapatan-tamin-palapa atas),mereka mendapatkan banyak rezeki hari itu.*menurut pengakuan si kondektur,sich* tapi kalau saya amati memang angkot yang saya tumpangi itu selalu penuh sampai saya yang mempunyai tempat tujuan paling jauh saja masih penuh. Alhamdulillah...

Yapz...akhirnya angkot menurunkan saya tepat didepan gedung tempat kursus saya. Masih terdengar alunan Bondan Ft Fade to Black, Ya Sudahlah. Sekarang saya seperti kembali kealam nyata...saya pasti terlambat dan saya tidak bisa menyebrang. Benar saja, tidak ada orang yang akan menyebrang jadi saya tidak bisa menumpang. Saya hanya berharap ada satpam yang melihat saya dan segera bertindak cepat. Sia – sia... saya harus menunggu lama sampai ada orang yang mau menyebrang, dan saya sudah sangat terlambat.

Beruntungnya saya masih bisa menimba ilmu malam ini dari Mr. Gusti. Gayanya mengajar saya suka. Ilmunya juga dapat tertransfer dengan baik. Dan score latihan saya juga bagus. Alhamdulillah...saya beruntung tidak melewatkan malam ini. Tidak ada alasan bagi saya untuk bermalas – malasan. Ada rekan saya yang rela jauh – jauh datang dari Kota Bumi (dengan menempuh perjalanan sekitar 2 jam) untuk belajar disini. Saya nggak boleh kalah saing,dhunkz!!!

Sesampainya dirumah, saya mencium aroma yang memanggil – manggil saya. Hihi...ada martabak duren... Alhamdulillah...

Belum sempat saya berganti pakaian, sepupu saya minta diantarkan membeli kertas krep. Toko mana yang jam segini masih buka (pukul 21.30,red)?wahhh...mau tidak mau saya harus menuju kearah kampus, nich. Beruntung kami masih menemukan toko yang buka. MM Gedung Meneng. Hehe...jauh kali ya belanjanya. Tugas saya belum selesai sampai disini, saya masih harus jadi tim kreatif untuk mendesain hiasan kepala siswa SDIT tempat sepupu saya mengajar karena sedang ada lomba dalam rangka milad Nabi Muhamad, sekaligus mempersiapkan semuanya (gunting – gunting...tempel... tempel). Untung saja saya bisa mengendarai sepeda motor, sehingga bisa diberdayakan. Seorang muslim kan harus pandai memanah, berkuda, dan berenang.

Sebelum membiarkan raga saya mendapatkan haknya untuk dapat beristirahat, saya memutar ulang rekam peristiwa yang saya alami hari ini. Saya kait – kaitkan dengan kejadian – kejadian dan fakta lain yang membuat saya semakin bersyukur.

“Ada dua kenikmatan, banyak manusia menjadi merugi gara-gara dua kenikmatan ini, yaitu; nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.” (HR Imam Bukhari).

Bukankah semua ruas tulang belulang manusia merupakan wujud dari kesehatan yang Allah swt berikan itu? Namun, sayangnya, sebagaimana tersebut dalam hadits, banyak manusia melupakannya sehingga mereka menjadi merugi karena tidak mensyukurinya.

“Diciptakan oleh Allah terdiri dari banyak ruas, semuanya ada tiga ratus enam puluh (360) ruas. Setiap ruas ini mencerminkan kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia. Oleh karena itu, setiap ruas ini diperintahkan untuk bersedekah, sebab atas nama setiap ruas ini merupakan ekspresi dan bentuk syukur manusia kepada Allah.”

Here i am, at the end of My lovely Friday, Allah has been kind to me, Allah gave me an opportunity and also answering all my hope or resolution. With Allah permission and guidance, i hope... *pray* Alhamdulillah.

Udah baca novel Galaksi Kinanthi belum?? Ada kata – kata ini nich : "Tersenyumlah ....Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu". Thank’s God that i have You,,,

No comments

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<