[Movie Review] Hujan Bulan Juni: Ekspektasi X Realita



Wohooooo udah lama banget rasanya saya nggak bikin movie review suka-suka. Bukan review sih ya kalau punya saya karena benar-benar subjektif dan suka-suka saya. Kan ini blog saya, ya boleh dong suka-suka saya. LOL.


... Lalu kenapa harus film ini?

Ya apalagi kalau bukan karena Eyang Sapardi. Jadi ceritanya, ketika saya tahu bahwa Buku Hujan Bulan Juni karya Sapardi yang sudah terbit sejak 1994 ini mau difilmkan, saya sangat excited sekali. Bahkan saya sempat menghubungi beliau untuk bisa menggelar diskusi film disini, di Lampung. Bahkan Mbak Yuli pun nggak kalah excited juga. Sayangnya funding yang rencananya bakal membiayai agenda tersebut bermuatan politik, so kami langsung mundur teratur.

Lalu tanpa sengaja saya menemukan film ini di Hooq. Langsung deh nonton tanpa ada niat sedikit pun untuk membandingkannya dengan buku. Well saya memang nggak membandingkan dengan buku, tapi ternyata I expecting too much 💔

Sinopsis

Film ini bercerita tentang sepasang dosen muda di Universitas Indonesia, Sarwono dan Pingkan. Sarwono adalah seorang dosen antropologi yang sangat Jawa mulai dari namanya, sedangkan Pingkan adalah dosen Sastra Jepang berdarah Manado-Solo. Pingkan mempunyai impian untuk melihat sakura di Jepang hingga akhirnya datanglah kesempatan itu dalam rangka ia harus belajar selama dua tahun di Sapporo. Sedangkan Sarwono, ia selalu memastikan bahwa Pingkan harus pergi mengejar mimpinya meski ia harus menanggung rindu dan cemburu. Pribadi Pingkan yang diperankan oleh Velove Vexia adalah gadis enerjik dan tampak smart memang mengundang siapa saja untuk mendekatinya. Maka dari itu Sarwono yang diperankan oleh Adipati Dolken berpenampilan rapi jali ala jadul selalu menyimpan cemburu, bahkan pada Doni sepupu angkat Pingkan dan juga Katsuo.

Meski poster film ini didominasi oleh foto mereka berdua dengan background bunga sakura, nyatanya tak banyak eksplorasi lokasi di Jepang. Adengan justru kebanyakan mengeksplorasi Manado dengan segala keindahan alam dan adat kebiasaan masyarakatnya.

Puisi-puisi Sapardi

Selebihnya lokasi bersetting di UI dan Solo dengan tak terlalu banyak improvisasi dan eksplorasi di sana-sini. Dialog pun kebanyakan hanya berdua, dicampur dengan puisi-puisi Sapardi yang diucapkan oleh cast di dalam hati dan dimuculkan dalam text.

Puisi yang dibacakan adalah puisi-puisi lama sejak tahun 80-an dan sebagian besar memang sudah sangat terkenal. Namun bagi saya, pembacaan puisi para cast terlalu tampak sebagai hafalan teks yang ditambah dengan tulisan di layar dengan font dan pop up yang sedikit mengganggu dan kurang elok di mata. Seandainya saja mereka bisa lebih natural, menjiwai puisi itu seolah benar mereka merasakannya dalam aliran darah mereka. Saya pikir seharusnya itu yang dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas karya-karya seorang living legend seperti Sapardi.

Mesin Waktu

Puisi-puisi Sapardi ini terbit sejak awal 90-an. Mungkin style Sarwono cukup mewakili era itu. Tapi Velovenya kekinian banget deh. Bening-bening yang membuat siapapun pastu tergoda. Ahay. Film ini diproduksi tahun
2017, setidaknya ketika teknologi sudah mutakhir dan gaya hidup juga sudah berubah. Menonton film ini saya seperti sesekali dilempar ke tahun 90an tapi dibuat kembali sadar bahwa saya masih berada di tahun 2017-2018. Ada penggunaan whatsapp sampai videocall, tapi sepertinya jiwa para tokohnya tidak ada di masa itu. Mesin waktu yang tidak terlalu sempurna.

 

Alur yang Melompat Seperti Kodok


Lagi-lagi saya katakan bahwa saya tidak ingin membandingkan dengan buku aslinya. Untuk itu saya selalu berusaha konsisten menonton dan fokus pada cerita, bukan ekspektasi saya. Namun ternyata alur ceritanya justru semakin tak nyata menjelang akhir film. Seperti ingin cepat-cepat disudahi saja.

Katanya pesan dua kamar di hotel, tau-tau jadi satu kamar saja. Pikiran saya mulai terganggu ketika tiba-tiba Sarwono hujan-hujanan di Solo, lalu dikabari bahwa ketiga puisinya diterbitkan di koran lokal. Lalu Pingkan yang ingin memberi kejutan tiba-tiba ada di UI dan tidak mendapati Sarwono. Ternyata Sarwono malah sedang dirawat sangat intensif di sebuah rumah sakit di Solo. Saya pikir Sarwono sudah mau mati saja. Ternyata dia masih hidup dengan membawa kejutan bahwa buku kumpulan puisinya berjudul Hujan Bulan Juni sudah terbit. Ah, maaf spoiler, tapi saya benar-benar mengeryitkan dahi.

Menurut saya film ini lebih tampak seperti sinetron. Saya sih berharap bahwa Eyang Sapardi betul-betul lepas tangan dalam proses produksinya. Jadi Eyang nggak tau gimana film ini diproduksi. Hoho. Meski ia masih dilibatkan untuk memainkan peran sebagai ayah Sarwono meski hanya beberapa menit saja. Film ini dimainkan oleh cast-cast kenamaan seperti Ira Wibowo, Surya Saputra, dan siapa lagi aktor kawakan yang jadi ibunya Sarwono. Mereka malah tampak kurang mengeluarkan jiwa aktor mereka, kurang dieksplorasi. Saya malah bersyukur dengan hadirnya seorang Baim Wong yang mampu mencairkan suasana. Scene dimana ada Baim Wong adalah Scene yang saya suka karena alurnya seperti natural tanpa dipaksa oleh script.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini pun mendadak kabur dari ingatan saya. Kalau ditarik dari kehidupan keseharian saya sendiri, yang relate dengan saya bahwa film ini menyuruh saya untuk tetap fokus pada impian. Mengejar impian tak peduli kamu meninggalkan apapun di dalam kenangan, menumbuhkan kerinduan sebesar apapun di dalam dada dan pikiran, tetap kejar mimpi itu. Di sisi lainnya adalah bahwa tak perlu takut dengan kekuatan cinta, yang meski terpisah jarak selalu punya waktu untuk bersenggama dengan waktu menghadirkan rindu yang makin menguat dan mengikat makin erat.

Ah entahlah, aku ini ngomong opo. Sorry to say, tapi memang bagusnya film ini jadi sinetron atau FTV saja. Gitu.

16 comments

  1. huwaaaa, masih ada whatsapp?? ah, nggak teliti timnya

    aku belum baca novelnya dan nonton filmnya sih. Pun baru tau alur ceritanya ya di sini, hehehe

    ReplyDelete
  2. kayak sinetron. haha.. tapi dari spoiler ini kayaknya filmnya biasa aja ya? ya walapun saya bgefans bwrat sama velove. 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ngefans banget sama Sapardi, terus ngefans sama Adipati juga tapi kok di sini buluk haha

      Delete
  3. Rasanya gimanaa gitu, kalau film yang kita tonton biasa aja, atau malah di luar harapan. Apalagi kalau ada scene yang tidak sesuai. Seperti penggunaan video call di tahun 90-an hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak sih, mau fokus di tahun terbit atau tahun produksi filmnya, gitu

      Delete
  4. saya pikir tadi film baru di bioskop
    ternyata film tahun lalu
    belum pernah nonton di hooq
    pengin juga sih secara beli kuota selalu ada jatahnya

    ReplyDelete
  5. Suka banyak kecewanya kalau dari buku kemudian di filmkan.
    Pasti ada banyak hal yang mengalami reduksi.
    Dan pasti jauh dari ekspektasi kita...karena ekspektasi tiap orang tidaklah pernah sama. Termasuk si sutradara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyaaaa, makanya saya juga cerita suka2 saya hihi

      Delete
  6. aku seringa banget liat film yang diangkat dari novel suka melenceg jauh dan terkadang ngebuat fans berat novelnya malah kecewa. bagusnya sih emang tanpa ekspektasi ya

    ReplyDelete
  7. Aku nggak tau sama sekali deh tentang film ini. Apakah aku kudet? Hehehe.
    Tapi setelah baca review ini jadi nggak tertarik buat kepoin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, maafkan aku duhai tim produksi

      Delete
  8. Aku belum nonton nih, berharap segera di tv

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<