7 FAKTA PRINGSEWU GROUP


Sebagai blogger (junior) yang berlagak profesional, terkadang saya seperti mendapat sinyal penuh keyakinan untuk menghadiri suatu undangan yang ‘berbobot’. Di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa yang dikejar deadline, tentunya saya harus benar-benar pandai mengatur waktu. Ceileee... udah sih kebanyakan intro! Well, saya menghadiri undangan makan siang dari Food and Beverage Manager Pringsewu Group. Looks professional enough, kan? Yang ngajak makan siang aja manajer, loh. Oke, Jadi saya pergi dengan Mbak Diba-diba Cinta Datang Kepadaku setelah selesai berdiskusi dengan Pembimbing II. Kami menerjang polusi udara dan terik mentari Jogja yang tepat berada di ubun-ubun. 
 
Sesampainya kami di Restoran Pringsewu, asap pekat menyambut kami. Saya sempat curiga dan penasaran, siapa sebenarnya pelaku pembakaran sampah di siang bolong seperti itu. Kalau memang pihak Pringsewu pelakunya, saya siap melakukan aksi protes kepada pimpinannya (kalo berani).


Setelah lumayan banyak menghirup dioxin dari sampah itu, akhirnya saya mendapatkan fakta-fakta tentang Pringsewu Group. Fakta ini saya anggap sebagai oleh-oleh yang paling berharga. Ilmu yang tak akan ada habisnya untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih jika saya berkesempatan untuk menjadi pengusaha kelak.

1.      Pringsewu Group Raih Penghargaan Pemda Hingga Rekor Muri
Yang membuat saya kagum sekaligus penasaran dengan Restoran Pringsewu sejak dulu adalah iklannya. Mereka menyediakan bibit pohon gratis kepada pelanggannya yang berminat. Iya, yang berminat aja. Nggak perlu semua pelanggan ngambil bibitnya, tapi digeletakin gitu aja atau malah dibuang di jalan. Kejam. Dan ternyata saya memang membuktikannya pada kunjungan ke Pringsewu yang pertama minggu lalu. Kami diberi oleh-oleh bibit pohon. Karena saya belum sanggup merawat pohon seperti merawat buah cinta dan ketiadaan lahan di kerajaan, maka bbibit itu saya berikan kepada Mbak Diba. Titip berkah dari sebuah pohon nangka yang kelak berbuah kebahagiaan. Kebahagiaan bagi bumi, juga bagi organisme dan mikroorganisme di sekelilingnya.

Dan Pringsewu pernah meraih SWA Award karena kepeduliannya terhadap lingkungan ini. Mereka juga mendapatkan penghargaan dari Kementrian Kehutanan yang saat itu masih dikomandoi oleh Pak Zulkifli dengan program satu milyar pohonnya. Berbagai penghargaan dari Pemerintah Daerah juga berhasil diraih oleh Pringsewu. Ini membuktikan keseriusan mereka dalam pelestarian alam, khususnya dalam menjaga keberadaan pohon-pohon sebagai aktor vital dalam simbiosis mutualisme dengan sesama makhluk hidup. STANDING OVATION UNTUK PRINGSEWU!!!

Unfortunatelly, saya belum sempat memunculkan pertanyaan tentang bagaimana mereka mengolah sampah, terlebih sampah domestik. Pasti akan sangat menarik sekali mengetahui metode pengolahan sampah dan air di restoran raksasa seperti Pringsewu.

Gara-gara iklannya yang lebih mirip rambu lalu lintas di sepanjang Indramayu sampai Rembang, mereka juga mendapatkan Rekor Muri. Kategorinya untuk iklan (or something) yang paling banyak, paling runut, dan paling teratur. Sayangnya saya baru dua kali melakukan perjalanan Lampung-Jogja dengan bus dan lewat jalur Pantura, jadi saya belum berkesempatan mampir ke Pringsewu hingga menerima undangan minggu lalu.

2.     BICARA SOP BUNTUT, PRINGSEWU JAGONYA
Mempunyai satu atau beberapa menu unggulan terkadang menjadi kekuatan bagi sebuah perusahaan kuliner. Manajer Food and Beverage Pringsewu Group, Bapak Heksa Aktiawan berkata,”bicara ayam, Bu Suharti Jagonya, bicara sop buntut ya Pringsewu.” Ini sudah menjadi semacam brand image dari Pringsewu di mana Sop Buntut dan Gurame Bakar menempati rating tertinggi sebagai menu yang paling sering dipesan. Artinya, ini adalah menu unggulan di sana. Dan benar saja, rasa gurame bakarnya mantap meski tidak sampai mengucurkan keringat seperti seruit. Sop buntutnya terasa homey, jadi seperti makan di rumah. Terlebih dibarengi dengan pelayanan super ekselen yang membuat pelanggan betah.

Setiap tiga bulan, Pringsewu mengeluarkan menu-menu baru. Dan setiap akhir tahun, mereka mengundang beberapa pihak untuk turut mencicipi menu yang akan di-launching pada tahun berikutnya.

3.     Rotasi Karyawan di Pringsewu Group Rendah
Keluar-masuknya karyawan terkadang menjadi perhatian dari suatu perusahaan. Pasalnya, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam melatih tenaga kerja baru dan memberikan insentif kepada karyawan yang resign juga tidak bisa dibilang sedikit jika pergantian karyawan terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Tapi Pringsewu seperti sudah menjadi ‘rumah’ bagi para karyawannya sehingga mereka tidak ingin pergi dan selalu merasa ingin kembali.

Pak Heksa, telah berada di Pringsewu selama sepuluh tahun. Karir pertamanya sendiri bukan di Pringsewu Group melainkan di beberapa perusahaan nasional bahkan multinasional. Prestasi kerjanya di perusahaan-perusahaan besar itu nyatanya tidak mampu memberi kepuasan tersendiri kepada Pria yang baru berulangtahun keempat puluh empat itu. Hingga akhirnya dia merasa betah mendedikasikan diri di Pringsewu.

Contoh lainnya adalah Pak Andy. Dia telah melalui jenjang karir di Pringsewu selama tujuh belas tahun. Karirnya bahkan  dimulai dari posisi waitress yang harus menggotong nampan hingga posisinya kini sebagai manajer.

Bu Ani, Manajer Produksi yang selalu bereksperimen dengan menu-menu baru telah mengabdi kepada Pringsewu selama dua puluh tahun. Wanita kelahiran tahun 1963 itu mendapat sapaan ‘make up soul’ dari rekan-rekan kerjanya karena dia selalu bekerja dengan riang dan pembawaannya yang selalu bahagia.

Kenapa para karyawan itu sampai begitu betah? Apakah mereka digaji dengan nominal yang teramat besar? Simak terus ke bawah, yah!

4.     Persatuan Konco Kentel (PKK) Merajut Silaturahmi
Para karyawan dan mantan karyawan Pringsewu Group dipertemukan dalam wadak PKK. Tidak hanya berlaku bagi yang masih berstatus karyawan, nyatanya PKK mampu merangkul para alumni. Bahkan guyub-nya mereka tampak dari perhatian setiap ada salah satu anggota yang tertimpa musibah. Memberikan bantuan untuk menghidupi anak mantan karyawan yang sudah meninggal juga menjadi andil dari PKK. Mereka sudah seperti keluarga yang dipertemukan oleh Pringsewu.

Rasa persaudaraan dan sense of belonging yang tinggi antar-karyawan Pringsewu Group juga menjadi aset tak ternilai dari perusahaan yang berencana melebarkan sayap dengan sistem franchise ini. 

5.     Pelanggan yang Selalu Ingin Kembali
Tidak hanya sekedar makan, pelanggan Pringsewu seperti meletakkan hatinya di tempat itu. Mereka senantiasa ingin kembali, lagi dan lagi. Menurut cerita Pak Andy, dulu sewaktu Restoran Pringsewu Jogja masih terletak di Jl. Magelang KM 5, ada sepasang sejoli yang selalu memadu kasih di meja nomor sembilan. Seperti sudah langganan dan merasa Pringsewu memberikan kesan tersendiri, mereka merayakan pernikahannya di sana. Pihak Pringsewu sampai rela mempersiapkan pesta mereka di hari terakhir sebelum kepindahan restoran itu di lokasi yang sekarang pada 2005 lalu. Pasangan itu bahkan sampai meminta kopian lagu-lagu yang selalu menemani mereka. Wohohoho... manisnyaaaaaa.

Ada lagi kisah serupa dari pasangan yang berasal dari Kalimantan. Mereka juga pelanggan Pringsewu dan merayakan pesta pernikahan di sana.

Cerita mengharukan datang dari seorang anak pengidap kanker otak yang bahkan sisa hidupnya sudah dapat diprediksi berapa lama. Dia bersama orangtuanya berkunjung ke Pringsewu, mendapatkan servis hiburan berupa sulap dan balon juga arena bermain anak. Anak itu tampak sangat bahagia. Hingga beberapa waktu kemudian dia mengajak orangtuanya untuk berkunjung lagi ke Pringsewu. Setelah kunjungan itu, anak tersebut pergi dengan tenang bersama kenangan balon-balon dan mungkin juga hiburan dari karyawan Pringsewu.

Seorang pelanggan yang juga penyuplai air di Pringsewu mempunyai kebiasaan menyantap gurame segar yang baru saja ditangkap dari air. Dia tidak pernah mau memakan ikan yang sudah lama dipotong sebelumnya. Ikan yang disantapnya harus segar. Setelah dia mengajak orangtuanya menyantap gurame favoritnya itu di Pringsewu, dia juga meninggal dengan tenang.

Mereka seperti telah menemukan candu untuk datang lagi dan lagi ke restoran itu. Pringsewu telah menitipkan kesan untuk mereka, pelanggan-pelanggan loyal itu pun menghadirkan kebahagiaan, kebanggaan, dan kepuasaan bagi pihak Pringsewu. Pelanggan adalah aset terbesar bagi suatu perusahaan. Tentunya hal itu menjadi lecutan semangat Pringsewu untuk terus meningkatkan kualitas pelayanannya.

6.     Peran CSR Bagi Pihak Eksternal dan Internal Perusahaan
Sebagai perusahaan yang telah eksis selama dua puluh tujuh tahun dengan tujuh belas cabang, Pringsewu tentu tidak boleh hanya memikirkan keuntungan semata. Wajar bila Pringsewu merasa perlu memberikan kontribusi untuk tercapainya target profit-people-and-planet-nya. Bukan perlu, yang emang wajib. Harus. Nggak boleh enggak kalo nggak mau dibilang perusahaan egois dan rakus.

Pringsewu sering mengadakan program donor darah dengan berbaga pihak. Mereka menyediakan hidangan bagi para pendonor secara gratis. Ada beberapa pihak dan instansi yang sudah langganan menggelar aksi donor darah di Pringsewu.

Mereka bahkan menyediakan makan siang bagi para petani yang mengolah sawah di belakang areanya. Sawah merekalah yang membuat Pringsewu berani menjual diri dengan ‘Paket Pernikahan Mewah Tepi Sawah’. Atau spot foto yang terkesan romantis dengan simbol hati atau tulisan ‘Pringsewu’ dengan kursi warna putih yang cantik dengan latar belakang padi menguning. Atau sekedar suara-suara burung dan harum bulir padi yang menemani pelanggannya bercengkarama. Meski karena sawah itu pula suasana menjadi gerah, tapi itulah daya tarik yang ditonjolkan oleh Pringsewu Jogja.

Pringsewu juga kerap mengadakan pelatihan-pelatihan bekerjasama dengan stakeholder. Mereka mengedukasi para pengusaha kecil tentnag bagaimana strategi usaha di bidang kuliner, bagaimana memproduksi makanan yang baik,dan itu semua tanpa pungutan biaya.

Tidak hanya kepada pihak luar, Pringsewu pastinya juga memberikan kemudahan putra-putri karyawan yang berprestasi di sekolahnya dengan beasiswa. Beasiswa artinya memudahkan oranglain untuk terus sekolah dan merasa bertanggungjawab untuk menjaga amanah dan melejitkan prestasi. Sebagai penerima beasiswa, saya senantiasa bersyukur dan berterimakasih karena dengan adanya bantuan tersebut saya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Mungkin semangat itu pula yang dirasakan oleh putra-putri karyawan Pringsewu Group.

Sharing is caring.  Pringsewu telah membuktikan bahwa dengan memberi, kita bisa menerima yang lebih. Apalagi berbagi ilmu, ilmu yang akan terus menjadi sedekah jariyah yang tidak akan pernah habis. Malah akan bertambah, terus bertambah dan berkah.

7.      Penanaman Pringsewu’s Value kepada seluruh Karyawan
Menurut pengakuan Pak Heksa, Pak Andy, dan Bu Ani, founding father Pringsewu adalah seorang Buddhist yang dermawan. Tidak hanya mengamalkan ajaran Budha yang menurut saya sungguh sangat mulia, beliau bahkan belajar bagaimana Islam mengajarkan cinta. Meskipun dia seorang pengikut Budha, dia masih mendengarkan ceramah Aa Gym dan Zainuddin MZ. Adakah muslim yang mendengarkan dan mengamalkan ocehan mereka?

Dia adalah Pak Agus yang berulang tahun delapan haris setelah Pringsewu (Ssst... Pringsewu berusia setahun lebih tua dari saya, tapi kami sama-sama berulangtahun di tanggal 20 Agustus). Saya menyimpulkan nilai-nilai yang tertanam dalam diri para karyawan Pringsewu adalah hasil transfer yang sangat baik dari para pendahulunya. Bagaimana mereka mengajarkan untuk tulus melayani pelanggan, bukan dengan senyum berpura-pura. Bukan dengan malas-malas dan berusaha sumringah di tengah keterpaksaan kerja. Karyawan harus bekerja atas dasar cinta. Demikian juga makanan-makanan yang dihidangkan juga telah diperlakukan dengan cinta.

Menjaga keseimbangan dengan alam juga merupakan bukti terimakasih karena alam telah memberikan segalanya sehingga Pringsewu tetap eksis. Dan saling memberi adalah menanamkan keberkahan dalam setiap usaha hingga mengalirkan doa-doa sehingga apa-apa yang kita jalani berbuah kemudahan dan keberkahan. Merasa bangga dan bahagia karena membuat orang lain bahagia, itu juga yang selalu saya camkan dalam kepala.

Terimakasih atas pelajaran-pelajaran priceless yang telah Pringsewu berikan kepada saya dan teman-teman blogger. Insyaallah ini menjadi tonggak peringatan dan tulisan ini menjadi cambuk untuk terus mengingatkan diri sendiri ketika dilanda kufur nikmat dan lemah.



1 comment

  1. Saya rinda lhoooo... Mas. Mbak Rere Blue Fatamorgana -_____- dan ini keceplosan. Harusnya belum boleh diterbitkan. Belum lulus dari kepala redaktur dan editor pelaksana hahaha

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<